Pengarang: Mu’jizah,
Judul: Iluminasi dalam Surat-surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19
Penerbit: KPG, EFEO, Pusat Bahasa, KITLV
Tempat dan Tahun: Jakarta, 2009
Tebal: 204 hlm
Oleh Ali Akbar
Buku ini semakin memperkaya khazanah kajian surat-surat Melayu yang telah terbit sebelumnya. Di antara buku sejenis yang mendahuluinya adalah (1) Golden letters: writing traditions of Indonesia/Surat emas: budaya tulis di Indonesia oleh Annabel Teh Gallop dan Bernard Arps, London: The British Library, Jakarta: Yayasan Lontar, 1991; (2) The legacy of the Malay letter/Warisan warkah Melayu oleh Annabel Teh Gallop, London: The British Library, 1994; (3) Di dalam berkekalan persahabatan: in everlasting friendship: letters from Raja Ali Haji oleh Jan van der Putten dan Al Azhar, Leiden, 1995 [Diterjemahkan oleh Aswandi, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2007]; (4) Warkah al-ikhlas 1818-1821 oleh Badriyah Haji Salleh, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1999; (5) Perang, dagang, persahabatan: Surat-surat Sultan Banten, Jakarta: Yayasan Obor, 2007. Di samping buku-buku tersebut, surat-surat Melayu juga dimuat dalam katalog pameran serta kalender. Adapun kajian mendalam atas surat Nusantara beberapa tahun terakhir dilakukan oleh Suryadi, dan sebagian sarjana lain di Indonesia dan Malaysia.
Masing-masing buku tersebut memiliki keistimewaan sendiri. Tampaknya buku Annabel pertama menjadi inspirasi dan menyadarkan banyak kalangan tentang pentingnya kajian bidang ini. Dan kajian Annabel diperkukuh dengan buku keduanya yang membahas lebih rinci aspek-aspek tradisi surat Melayu. Buku ini juga memuat 100 transliterasi surat Melayu - suatu pekerjaan yang mungkin sulit dibayangkan rumitnya. Adapun buku ketiga khusus menampilkan surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall, sahabat setianya. Buku ini disertai pendahuluan yang kritis dan catatan akhir yang rinci dan panjang lebar. Buku keempat memuat 120 surat yang dibuat hanya dalam rentang waktu 4 tahun (1818-1821), merupakan kumpulan surat William Farquhar kepada raja Nusantara atau sebaliknya. Buku ini hanya memuat transliterasi dalam huruf Latin, sehingga terasa 'sepi'. Buku kelima adalah kajian kodikologis atas surat-surat para sultan dan bangsawan Banten koleksi beberapa lembaga internasional.
Buku Mu'jizah ini mempunyai keistimewaan tersendiri, karena fokus perhatiannya pada segi iluminasi, dan 50 surat yang dibahas dipilih berdasarkan hiasannya. Lebih dari itu, buku ini semula merupakan disertasi, sehingga telah menempuh 'perjuangan' yang panjang dan melelahkan.
Buku ini terdiri atas tiga bab dan kesimpulan. Bab pertama, "Surat beriluminasi dalam perkembangan sejarah Nusantara" terdiri atas kajian pustaka, ruang lingkup penelitian, latar belakang sejarah, serta daftar ke-50 surat yang diteliti. Bab kedua, "Pemerian dan transkripsi lima puluh surat", berisi uraian pemerian, transkripsi, serta deskripsi iluminasi masing-masing surat. Ke-50 surat dicetak berwarna dalam bagian ini. Bab ini merupakan bagian terbesar, dan memakan hampir dua per tiga ketebalan buku. Adapun bab ketiga, "Iluminasi: tata susun, ciri, fungsi" menganalisis bagian-bagian surat, dan mencari ciri-ciri kedaerahan yang khas dari iluminasi surat.
Tiga bab itu rupanya merupakan penyederhanaan, karena disertasinya sendiri - berjudul "Surat Melayu beriluminasi raja Nusantara dan pemerintah Hindia-Belanda abad XVIII-XIX: tinjauan bentuk, isi, dan makna simbolik" - terdiri atas tujuh bab, di luar kesimpulan. Buku ini tidak memuat bab ke-7 disertasi, yaitu "Simbol dan kekuasaan" yang menurut penulisnya 'merupakan usaha pemaknaan surat beriluminasi' dengan pendekatan semiotik. Namun di dalam buku ini tidak ada keterangan mengapa bab ke-7 dihilangkan. Dalam buku ini nama penyunting tidak dicantumkan - sesuatu yang sebenarnya perlu, sebagai bentuk 'pertanggungjawaban'.
Persoalan krusial pertama mengenai definisi iluminasi. Pengertian 'iluminasi' dijelaskan dalam buku ini, yaitu "istilah khusus dalam ilmu pernaskahan (kodikologi) untuk menyebut gambar dalam naskah" (hlm. 11). Dalam pernyataan ini iluminasi jelas dimengerti sebagai gambar, dan hal ini juga disebut di bagian lain, "surat-surat bergambar (beriluminasi)" (hlm. 9). Pengertian iluminasi sebagai gambar dipertegas lebih lanjut, ketika penulis dalam kajian pustakanya mengambil contoh buku Oleg Grabar berjudul Illustration of the Maqamat (1984) dan buku Seyyed Hossein Nasr berjudul Animal Symbolism in Warqa wa Ghulshah (hlm.12). Pengambilan contoh buku Oleg Grabar ini, yang membahas Maqamat al-Hariri, suatu naskah berilustrasi dari abad ke-13, barangkali kurang tepat, karena ilustrasi dalam buku itu memang betul-betul ilustrasi: suatu gambar yang menjelaskan dan mendukung teks, bukan suatu hiasan atau dekorasi naskah.
Di dalam kamus, illumination dari kata illuminate berarti to light up; to make bright; to decorate. Dalam kamus lain disebutkan, to shine light on something; to decorate. Sementara illumination diuraikan sebagai a coloured decoration usually painted by hand in an old book. (Oxford Advanced Leaner's Dictionary, Oxford University Press, 2005).
Dari pengertian kamus ini dapat dimengerti bahwa pada prinsipnya iluminasi adalah hiasan atau dekorasi. Dalam naskah, hiasan itu biasanya bersifat abstrak, tidak fungsional menjelaskan isi teks, dan berfungsi semata "menerangi" atau sebagai "penerang" bagi teks yang disajikan. Jadi kurang tepat bila disebut sebagai 'gambar'.
Hal ini berbeda dengan ilustrasi. Dalam kamus, ilustrasi (illustration) berarti a drawing or picture in a book, magazine, etc. especially one that explains something. Dalam lema lainnya, illustrate berarti to use pictures, photographs, diagrams, etc. in a book, etc.; to make the meaning of something clearer by using examples, pictures, etc. (Ibid.)
Pengertian ini menjelaskan bahwa ilustrasi adalah gambar dalam naskah atau buku yang berfungsi menjelaskan isi dan mendukung teks secara langsung. Sebuah teks bisa jadi tidak lengkap, atau ganjil, jika tanpa ilustrasi. Dengan demikian, antara iluminasi dan ilustrasi berbeda fungsi. Ilustrasi berfungsi 'menjelaskan' teks, sementara iluminasi berfungsi 'menghiasi' atau 'memperindah' teks. Sebenarnya penulis perlu menegaskan perbedaan pengertian ini sejak awal.
Dalam kaitan ini, konsekuensinya, pernyataan penulis selanjutnya bisa dipertanyakan. "Jika iluminasi yang mendukung teks diabaikan dapat menyebabkan pemahaman terhadap teks tidak utuh; iluminasi dan teks adalah satu kesatuan" (hlm. 13), dan "iluminasi diduga berkaitan erat dengan teks sebab keduanya merupakan satu kesatuan" (hlm. 14). Lebih dari itu, kedua pernyataan ini juga tidak mendapatkan kejelasan dalam buku ini, sehingga menggantung, karena usaha penulis untuk memaknai iluminasi dengan pendekatan semiotik dihilangkan dalam buku ini.
Suatu pertanyaan mendasar lainnya yang bisa dilayangkan, yaitu penamaan atau identifikasi motif-motif itu sejauh mana bisa dipertanggungjawabkan? Sebab, kebanyakan motif itu telah mengalami stilisasi, sehingga sering mengaburkan kepastian jenis bunga atau tumbuhannya. Identifikasi itu barangkali juga mempunyai masalah lain, yang tak kalah 'berbahaya', yaitu terkait dengan rentang waktu dan ruang yang bisa berbeda. Misalnya, hiasan yang dibuat di kota Surat, India, pada kurun lampau, yang dimaknai pada zaman sekarang, di Indonesia. Bagaimana kontras ini bisa dijelaskan secara lebih 'pasti'?
Hal lain, buku ini menggunakan istilah 'transkripsi' untuk istilah 'transliterasi' yang biasanya digunakan dalam filologi. Tentu saja penyunting buku ini mempunyai alasan tersendiri mengenai hal ini, dan mungkin ini soal pilihan istilah saja. Namun, untuk mengorek lebih jauh, jika kita membuka salah satu kamus, transkripsi (transcription) berarti: the act or process of representing something in a written or a printed form; something that is represented in writings; a change in the written form of a piece of music so that it can be played on a different instrument or using by a different voice. (Ibid).
Ini sejalan dengan pengertian dalam kamus lain, bahwa transkripsi berarti "pengalihan tuturan (yang berwujud bunyi) ke dalam bentuk tulisan; penulisan kata, kalimat atau teks dengan menggunakan lambang-lambang bunyi" (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002).
Adapun transliterasi, dari kata transliterate, berarti: to write words or letters using letters of a different alphabet or language. Sejalan dengan pengertian ini, KBBI Edisi Ketiga menyebutkan bahwa transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain (misalnya, dari tulisan Arab ke dalam tulisan Latin).
Terkait hal ini, ada kekeliruan penyebutan 'transliterasi' dengan 'transkripsi' pada buku Pedoman Transliterasi Arab-Latin (PTAL) yang diterbitkan oleh Departemen Agama. Dalam buku ini kata 'transliterasi' diganti dengan 'transkripsi', tanpa catatan kaki atau penjelasan (hlm. 24). Tentu saja, kekeliruan ini terjadi karena usaha penggantian istilah tersebut.
Kekeliruan lainnya adalah transliterasi yang digunakan buku ini. Meskipun secara jelas disebutkan bahwa trasliterasi buku ini menggunakan PTAL Depag (hlm. 24), pada kenyatannya tidak sepenuhnya menggunakan pedoman tersebut, sebab dalam buku ini huruf ط dilambangkan dengan th dan huruf غ dengan huruf gh. Dalam transliterasi Depag, kedua huruf itu menggunakan huruf ¯ (huruf t dengan titik di bawah) dan g. Sebaiknya pedoman transliterasi yang digunakan dalam buku ini disebutkan secara jelas, sekalipun misalnya, dengan padanan alih huruf yang dibuat sendiri.
Di bagian lain, buku ini menjelaskan ciri kedaerahan dalam surat Nusantara. Ciri khas itu di antaranya surat dari Aceh, Palembang, Banten, Batavia, Bogor, Surabaya, Madura, Tanette, Banjarmasin dan Pontianak (hlm. 160). Ciri kedaerahan ini, jika dibandingkan dengan iluminasi dalam mushaf Al-Qur'an yang berasal dari sebagian daerah tersebut, tampaknya menunjukkan kenyataan yang agak berbeda, meskipun ada hal-hal tertentu yang menunjukkan kemiripan.
Surat nomor 4 yang dikirim oleh Sultan Zainal Abidin dari Terengganu (diterima di Batavia 13 April 1798) merupakan surat dengan iluminasi mewah, dengan penggarapan detail yang baik, bahkan menurut Annabel merupakan salah satu surat Melayu beriluminasi paling apik (hlm. 8). Hal ini sejalan dengan iluminasi banyak Al-Qur'an dari Terengganu dari periode yang kurang lebih sama yang digarap dengan sangat baik pula, dan dapat dianggap di antara yang paling baik di Nusantara. Dari pola iluminasi, ada pula kemiripan, yaitu pola tiga kubah atau gunungan di atas teks surat. Ada sebagian Al-Qur'an yang berstruktur iluminasi seperti itu. Namun, pilihan jenis kaligrafi yang digunakan berbeda, sebab kaligrafi dalam Al-Qur'an Terengganu menggunakan jenis Naskhi berharakat.
Beberapa surat dari Banten (nomor 12-16) memiliki ciri yang mirip satu sama lain, baik latar iluminasi emas maupun jenis kaligrafinya. Al-Qur'an berkode A.50 koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta, mempunyai kemiripan, yaitu ditulis di atas kertas beriluminasi emas di seluruh halamannya. Masing-masing lembar kertas ditulis hanya pada satu muka, yang kemudian direkatkan menjadi halaman bolak-balik. Adapun jenis kaligrafi yang digunakan berbeda, karena dalam mushaf menggunakan jenis Naskhi berharakat lengkap, dengan pengaruh gaya Naskhi Indo-Persia yang kuat. Di luar gaya Banten yang bisa dianggap baku itu, keterampilan kaligrafi (tulisan indah) para penulis dari Banten dapat dikatakan sederhana.
Akhirnya, harus diakui, bahwa penelitian dan penerbitan buku ini merupakan sumbangan besar bagi kajian surat Nusantara. Ketelitian dan ketekunan luar biasa dalam membaca 50 surat dalam huruf Arab 'gundul' adalah ketekunan yang harus dipuji tinggi. Sesungguhnyalah, banyak kesulitan yang dihadapi membaca tulisan Jawi yang hampir-hampir tidak mempunyai petunjuk vokal. Namun kesulitan itu dilalui penulis dengan sukses. Buku ini, selanjutnya, akan memancing serangkaian penelitian lain, misalnya kaligrafi, paleografi, bahasa, sastra, diplomasi, politik, sejarah, dan lain-lain. Dan, tentu saja, buku atau hasil penelitian yang baik adalah buku yang menginspirasi banyak orang untuk melakukan penelitian lebih lanjut.[]
Catatan: tulisan ini juga dimuat dalam Jurnal Suhuf, Vol. 2, No.2 (2009): 319-323.
Ali Akbar, peneliti di Bayt Al-Quran & Museum Istiqlal, Jakarta.